Andai Sultan Iskandar Muda Masih Ada, Meugang Tak Perlu Tunggu Bencana

Table of Contents

daging meugang gratis masa Sultan Iskandar Muda

Masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda meugang adalah hak, bukan belas kasihan, tak perlu menunggu air mata dan bencana

Seandainya Sultan Iskandar Muda masih berdiri memimpin hari ini, Meugang bukan sekadar tradisi tahunan. Ia akan menjadi kepastian bahwa setiap rakyat, kaya ataupun miskin akan merasakan kebahagiaan yang sama tanpa harus menunggu musibah datang lebih dulu.

Sejarah mencatat, pada masa kejayaan Kesultanan Aceh abad ke-17, Iskandar Muda bukan hanya memperluas wilayah hingga Semenanjung Malaka dan memperkuat armada laut Aceh sebagai salah satu kekuatan besar di Asia Tenggara. 

Ia juga menata kehidupan sosial rakyatnya. Dalam berbagai sumber sejarah Aceh, disebutkan bahwa sang sultan menetapkan aturan-aturan (qanun) yang mengatur tata kelola pemerintahan, perdagangan, hingga kepedulian sosial.

Tradisi pembagian daging menjelang hari besar keagamaan lahir dari semangat itu. 

Dalam Sejarah Aceh dalam Lintasan Waktu (Abdullah,2019:87), disebutkan Ia memerintahkan penyembelihan hewan dan membagikannya kepada fakir miskin, anak yatim, dan masyarakat yang membutuhkan.

Bukan karena rakyatnya terkena bencana, bukan pula karena tekanan keadaan. Tetapi karena ia meyakini bahwa kesejahteraan adalah tanggung jawab pemimpin dan bukan hadiah sesaat.

Hari ini, kita menyaksikan bantuan kerap hadir saat musibah melanda. 

Teranyar, bantuan daging meugang gratis dari Presiden Prabowo Subianto dibagikan kepada masyarakat terdampak banjir bandang di Aceh.

Itu adalah bentuk kepedulian dalam situasi darurat, dan tentu patut diapresiasi. Namun bayangkan jika kesejahteraan tidak harus menunggu air bah merendam rumah dan menghancurkan harapan.

Dahulu, di bawah kepemimpinan Iskandar Muda, Meugang adalah hari di mana negara hadir sebelum rakyat jatuh. Rakyat tidak perlu menjadi korban untuk merasakan perhatian. 

Tidak perlu kehilangan segalanya untuk mendapatkan bagian. Sebab bagi beliau, berbagi adalah fondasi peradaban bukan respons terhadap tragedi.

Ia memahami bahwa martabat rakyat tidak boleh bergantung pada belas kasihan. Meugang adalah hak sosial. Hak untuk merasakan kebersamaan. Hak untuk menikmati rezeki negeri sendiri. Hak untuk tersenyum tanpa syarat.

Jika ia masih hidup hari ini, mungkin pesannya akan sederhana namun mengguncang nurani:

Jangan tunggu bencana untuk berbagi, jangan tunggu penderitaan untuk peduli.

Dan jangan biarkan rakyat merasa diperhatikan hanya ketika mereka menjadi korban.

Karena bagi Sultan Iskandar Muda, kebesaran sebuah negeri bukan diukur dari seberapa cepat bantuan datang saat musibah, tetapi dari seberapa adil kesejahteraan dibagikan sebelum musibah itu pernah terjadi.

Semoga pemimpin Aceh hari ini dapat meneladani semangat kepemimpinan yang menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai tanggung jawab utama, menghadirkan keadilan sebelum kesulitan datang, dan memastikan tradisi berbagi tetap menjadi hak yang dirasakan semua orang, bukan sekadar bantuan saat bencana.

Post a Comment