Ketika Sungai Belum Sembuh, Kita Justru Menggalinya Lagi
![]() |
| Sumber Foto: walhiaceh.or.id |
Namun yang terlihat hari ini justru sebaliknya. Di sekitar Sungai Teupin Mane, aktivitas penambangan pasir kembali berlangsung, seolah alam dan warga yang terdampak belum cukup menderita.
Sungai yang baru saja berubah alurnya akibat banjir seharusnya diberi waktu untuk pulih.
Tanah di sekitarnya masih rapuh, ekosistemnya belum stabil, dan rasa aman warga pun belum kembali sepenuhnya.
Dalam kondisi seperti ini, pengerukan pasir bukan hanya soal pelanggaran aturan, tetapi juga soal hilangnya empati terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
Yang membuat situasi ini semakin memprihatinkan adalah lokasinya yang berada dekat dengan Jembatan Teupin Mane, jalur penting bagi aktivitas harian warga.
Ketika penambangan dibiarkan tanpa pengawasan yang jelas, risiko kerusakan jembatan dan bencana susulan menjadi ancaman nyata.
Sayangnya, ancaman ini sering kali dianggap remeh sampai sesuatu benar-benar terjadi.
Sebagai warga, kita belajar dari pengalaman pahit. Banjir bandang bukan peristiwa abstrak; ia meninggalkan trauma, kerugian, dan ketidakpastian.
Maka wajar jika masyarakat merasa cemas melihat sungai yang belum pulih justru kembali dieksploitasi.
Kekhawatiran ini bukan bentuk penolakan terhadap pembangunan, melainkan seruan agar pembangunan dilakukan dengan akal sehat dan tanggung jawab lingkungan.
Advokasi lingkungan bukan berarti menolak aktivitas ekonomi, tetapi menuntut keadilan ekologis.
Sungai bukan hanya sumber material, melainkan penopang kehidupan.
Ketika pengelolaannya mengabaikan daya dukung alam, yang dipertaruhkan bukan hanya lingkungan, tetapi keselamatan manusia itu sendiri.
Sudah saatnya pemerintah daerah dan instansi terkait bersikap terbuka dan tegas.
Penataan sungai pascabencana harus mengutamakan pemulihan ekosistem dan keselamatan warga, bukan memberi ruang pada praktik yang berpotensi memperparah kerusakan.
Diamnya otoritas hanya akan memperpanjang siklus bencana yang seharusnya bisa dicegah.
Sungai Teupin Mane layak dijaga, bukan terus-menerus dieksploitasi. Membiarkan kerusakan berlangsung sama artinya dengan memilih diam.
Ketika pengerukan dilakukan tanpa kendali dan risikonya justru ditanggung oleh warga, bersikap netral bukanlah pilihan yang bijak.
Inilah saatnya kita berpihak pada keselamatan, kelestarian lingkungan, dan masa depan bersama. Sungai mungkin tak mampu menyuarakan kepentingannya, tetapi kita mampu melakukannya.
Menjaga sungai bukan semata tanggung jawab pemerintah, melainkan kewajiban kolektif. Warga, tokoh masyarakat, dan komunitas lingkungan perlu saling menguatkan untuk menyampaikan kepedulian.
Setiap aktivitas yang berpotensi merusak sungai dan membahayakan keselamatan harus disikapi dengan keberanian: dicatat, dilaporkan, dan disuarakan bersama, agar kepentingan publik tidak terus-menerus diabaikan.
Menjaga sungai berarti menjaga masa depan. Jika hari ini kita membiarkan sungai yang terluka terus dikeruk, jangan heran bila suatu saat ia kembali “mengambil” apa yang selama ini kita abaikan.

Post a Comment