Para Bedebah di Tengah Musibah
| Para Bedebah di Tengah Musibah |
Peugah.com | Ketika air bah datang tanpa mengetuk, warga hanya dihadapkan pada dua pilihan: menyelamatkan nyawa, atau tenggelam bersama rumah dan kenangan.
Musibah hadir seperti pencuri di malam hari—merampas harta, rasa aman, dan masa depan dalam sekejap.
Namun bencana tak hanya mendatangkan satu jenis pencuri. Ada yang datang belakangan, dengan wajah lebih rapi dan tutur kata lebih sopan, tetapi jauh lebih menyebalkan.
Mereka berselimutkan kebajikan, namun berhati gelap seperti arus banjir yang membawa lumpur dan reruntuhan.
Di tengah jeritan minta tolong dan langkah panik mencari keselamatan, selalu muncul sekelompok orang yang melihat celah. Mereka adalah para bedebah di tengah musibah.
Bencana seharusnya menjadi ruang empati, solidaritas, dan kemanusiaan.
Saat banjir merendam rumah, longsor menutup jalan, dan warga kehilangan harta bahkan keluarga, nurani semestinya berbicara lebih lantang daripada kepentingan pribadi.
Sayangnya, bagi sebagian orang, bencana justru dibaca sebagai peluang emas untuk meraup keuntungan.
Ketika air belum surut dan tanah masih labil, harga bahan pokok melonjak tak masuk akal. Beras yang sebelumnya terjangkau mendadak berlipat ganda.
Bahan pokok dikunci rapat, menunggu harga terbaik dari penderitaan.
Minyak goreng, telur, gula, air bersih, hingga mi instan berubah menjadi barang “mewah” bagi para korban.
Ada pula mereka yang menahan karung beras di gudang, sambil menghitung berapa keuntungan yang bisa diraih jika keadaan semakin buruk.
Mereka tahu lapar mudah dimanfaatkan. Mereka tahu ketakutan bisa dijadikan komoditas.
Bagi rakyat, musibah adalah neraka. Bagi mereka, ini hanya surga yang becek.
Mereka yang paling membutuhkan diperas—tanpa senjata, tanpa ancaman terbuka, tetapi dengan cara yang sama kejamnya: harga selangit.
Yang lebih menyakitkan, praktik ini kerap dilakukan oleh mereka yang berada paling dekat dengan korban.
Pedagang lokal, distributor, hingga oknum yang menguasai jalur pasokan memanfaatkan kelangkaan dan kepanikan.
Dalihnya terdengar klasik: barang sulit masuk, ongkos naik, risiko besar. Padahal di balik alasan itu, ada margin keuntungan yang sengaja dilebarkan, mengorbankan rasa kemanusiaan.
Tak berhenti di situ, tarif angkutan pun ikut melambung.
Jalan rusak dan akses terbatas memang kenyataan, tetapi ketika ongkos dinaikkan berkali-kali lipat tanpa alasan proporsional, itu bukan lagi soal biaya operasional—itu pemerasan.
Warga yang hendak mengungsi, relawan yang ingin menyalurkan bantuan yang berjuang menembus lokasi terdampak dipaksa membayar mahal.
Keselamatan dan kemanusiaan dijadikan komoditas.
Perilaku semacam ini bukan sekadar tidak etis, tetapi mencederai nilai sosial yang menjadi fondasi hidup bersama.
Di saat negara dan masyarakat berupaya bergerak cepat menolong korban, para bedebah ini justru menggerogoti upaya itu dari dalam.
Mereka menambah beban psikologis dan ekonomi korban, memperpanjang penderitaan, dan memperdalam ketimpangan.
Lebih buruk lagi, praktik ini sering luput dari pengawasan.
Dalam situasi darurat, penegakan aturan melemah, kontrol harga longgar, dan korban nyaris tak memiliki daya tawar.
Akibatnya, kejahatan moral ini berlangsung nyaris tanpa konsekuensi, padahal hukum dan etika jelas menempatkan penimbunan, spekulasi harga, serta pemanfaatan bencana untuk keuntungan pribadi sebagai perbuatan tercela.
Kemanusiaan belum sepenuhnya mati
Sementara itu, warga saling menguatkan. Mereka berbagi, saling topang, dan saling meyakinkan bahwa semuanya akan bisa dilewati.
Mereka tidak mengeluh meski ada keluarga hilang terseret arus, rumah hanyut, dan malam-malam dilalui dalam dingin. Mereka hanya ingin bertahan hidup.
Harapan belum sepenuhnya padam. Di banyak tempat, wajah lain kemanusiaan tetap hadir.
Relawan bekerja tanpa pamrih, pedagang justru menurunkan harga, pengelola angkutan menurukan bahkan menggratiskan tarif, dan warga berbagi apa pun yang mereka miliki.
Mereka menjadi penyeimbang, bukti bahwa nurani belum mati.
Karena itu, musibah bukan hanya ujian alam, melainkan juga ujian moral. Ia membuka tabir siapa yang benar-benar manusia, dan siapa yang memilih menjadi bedebah.
Sudah saatnya praktik menaikkan harga dan tarif secara tidak manusiawi ini dilawan bersama—dengan pengawasan ketat, sanksi tegas, dan tekanan sosial yang nyata.
Bencana tidak boleh menjadi ladang bisnis kotor. Di tengah derita, yang dibutuhkan adalah empati, bukan oportunisme.
Pada akhirnya, banjir dan longsor akan surut. Lumpur akan dibersihkan, rumah bisa dibangun kembali, dan jalan yang putus akan disambung lagi. Tetapi kerusakan pada nurani jauh lebih sulit dipulihkan.
Musibah seharusnya menyatukan, bukan memisahkan antara yang menderita dan yang mengambil untung.
Ketika penderitaan dijadikan peluang, maka yang runtuh bukan hanya rumah warga, melainkan juga nilai kemanusiaan kita sebagai bangsa.
Jika praktik pemerasan dan spekulasi ini dibiarkan, maka setiap bencana ke depan hanya akan melahirkan tragedi ganda: kehancuran fisik dan kehancuran moral.
Negara, aparat, dan masyarakat tak boleh menoleh ke arah lain. Diam berarti membiarkan kejahatan berulang dengan wajah yang sama.
Sejarah akan mencatat siapa yang hadir membawa tangan terbuka, dan siapa yang datang membawa timbangan keuntungan.
Karena pada akhirnya, musibah bukan hanya tentang alam yang murka, tetapi tentang manusia yang memilih tetap manusia—atau berubah menjadi bedebah.
~CATATAN CUTBANG~
Post a Comment