Bencana dan Bisnis di Atas Penderitaan
Table of Contents
| ilustrasi bencana alam banjir dan longsor |
Lokasi Bencana, Harga Istimewa
Di saat sebagian warga masih membersihkan lumpur dari sisa banjir dan menghitung ulang apa saja yang hilang, beban hidup justru datang dari arah yang tak terduga.
Untuk sekadar keluar masuk wilayah terdampak, membeli beras, atau menumpang angkutan, mereka harus membayar lebih mahal—seolah musibah belum cukup, derita pun diberi harga.
Di tengah statusnya sebagai lokasi bencana, ada kawasan yang justru diperlakukan layaknya destinasi wisata bertarif istimewa.
Jalan menuju lokasi terdampak dipenuhi tarif tak wajar, ongkos angkutan melonjak tanpa kendali, sementara harga bahan pokok meroket jauh dari jangkauan warga.
Bencana seolah menjadi komoditas, bukan musibah yang menuntut empati.
Warga yang kehilangan akses dan mata pencaharian dipaksa membayar lebih mahal hanya untuk bertahan hidup.
Beras, minyak, gas, dan kebutuhan dasar lainnya dijual dengan harga yang mencekik, seakan penderitaan adalah peluang ekonomi.
Di saat negara seharusnya hadir melindungi, yang terjadi justru pembiaran terhadap praktik yang menekan korban.
Lebih ironis lagi, bencana alam berubah fungsi menjadi destinasi ekonomi.
Masuk mahal, bertahan hidup lebih mahal. semua terasa semakin berat.
Ketika bencana diperlakukan seperti objek wisata, maka yang hancur bukan hanya alam dan infrastruktur, tetapi juga nurani.
Warga terdampak kini berjuang di dua medan sekaligus: melawan lumpur dan longsor, serta melawan harga pangan dan ongkos angkutan yang tak mengenal belas kasih.
Katanya musibah, tapi perlakuannya seperti objek wisata.
Katanya darurat, tapi tarifnya premium.
Empati kalah cepat dari kalkulator.
Dan korban bencana belajar satu hal: bahkan saat susah, tetap harus bayar.
Penutup
Pada akhirnya, bencana bukan hanya soal alam yang murka, tetapi tentang bagaimana manusia memilih bersikap.
Di tengah derita warga, yang paling dibutuhkan bukan tarif dan keuntungan, melainkan empati, keadilan, dan keberpihakan.
Sebab kemanusiaan seharusnya hadir paling awal—bukan datang terakhir setelah semuanya dihitung dengan angka.
Mungkin kita tak bisa menghentikan bencana, tetapi kita selalu punya pilihan untuk tidak menambah penderitaan.
Saat warga berjuang bertahan hidup, semoga yang kita hadirkan bukan beban baru, melainkan uluran kemanusiaan.
Post a Comment